"QUARTER-LIFE CRISIS" Pengertian, Ciri-Ciri, Faktor Penyebab, serta Strategi Menghadapi

   (source image from pinterest)

       Quarter-life crisis merupakan fenomena yang sudah lama dan  dialami oleh setiap individu, apalagi di usia seperempat abad ini beban dan kebutuhan setiap individupun semakin bertambah. Usia 18 - 29 tahun dimana individu memalui masa peralihan dari remaja akhir menuju dewasa awal, sebagian generasi milenial sudah memasuki dunia kerja. Menurut Fadhilah dkk., (2022), Quarter-life crisis merupakan suatu kekhawatiran yang dirasakan oleh individu karena ketidakpastian tentang masa depan. Kekhawatiran dan kecemasan tersebut dapat berkaitan dengan hubungan sosial, karier atau pekerjaan, serta masalah kehidupan lainnya yang terjadi pada usia dua puluhan.

   Peningkatan persaingan didunia kerja membuat dewasa awal harus berusaha lebih sulit dari sebelumnya atau harus lebih menonjol dari yang lainnya sehingga menimbulkan permasalahan bagi kesejahteraan individu yang baru lulus (fresh graduate). Adanya tanggung jawab baru, kebingungan identitas, kehilangan arah diikuti perasaan tidak berdaya, ketakutan dan kekhawatiran masa depan yang terjadi pada individu usia 20-an menyebabkan krisis emosional yang dikenal dengan istilah quarterlife crisis (Robbins, 2001). Beberapa aspek/ ciri-ciri yang dialami oleh individu pada masa Quarterlife crisis dijabarkan oleh Robbins dan Wilner (dalam Robinson, 2019) meliputi:

  1. Kebimbangan Pengambilan Keputusan. Individu mengalami kebingungan tentang banyaknya pilihan yang tersedia baik pilihan jangka pendek atau jangka panjang sehingga membuat kebimbangan yang krusial dalam mengambil keputusan.
  2. Perasaan Putus Asa. Kehilangan keyakinan pada dirinya sendiri terutama jika mereka sudah berusaha keras tetapi tidak melihat hasil atau kepuasan dari usahanya tersebut. Hal ini diperkuat dengan keadaan sekitar seperti rekan-rekan yang sukses dan berkembang dalam karir dan studinya. Pada saat yang sama, individu merasa tidak mampu mendapatkannya, meski mengambil langkah pertama mereka bersama dan pada usia yang tidak jauh berbeda 
  3. Penilaian Diri Negatif. Keadaan yang tidak terduga seperti kecemasan tentang masa dewasa, phobia terhadap kegagalan, kebingungan dalam memilih, dan krisis identitas dan seringkali melakukan evaluasi diri dengan membandingkan diri mereka dengan orang lain dan akhirnya merasa tidak cukup baik.
  4. Terjebak Dalam Situasi Sulit. Pandangan dan tindakan seseorang dapat sangat dipengaruhi oleh lingkungan kerja, tempat tinggal, atau asal negara mereka, Kadang-kadang, seorang individu mungkin tahu apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah, tetapi mereka tidak bisa memulainya.
  5. Perasaan Cemas dan Tertekan. Perasaan ini disebabkan karena banyaknya kegiatan dan rencana yang seringkali tidak berjalan sesuai rencana awal yang diharapkan.
  6. Kekhawatiran Terhadap hubungan interpersonal. Adanya pandangan  budaya dimana sebagian orang menikah pada usia tiga puluhan atau lebih muda. Bagi mereka yang bertanya-tanya kapan mereka akan menikah, apakah sudah siap menikah, apakah pasangan yang mereka pilih adalah orang yang tepat. Selain itu, individu juga merasa perlu menyeimbangkan hubungan dengan teman, keluarga, pasangan, dan karier. 
(source image from pinterest)

        Aspek-aspek yang telah dijabarkan terjadi karena beberapa faktor. Aspek-aspek yang telah dijabarkan terjadi karena beberapa faktor. Menurut Robbins dan Wilner (dalam Nash dan Murray, 2010) terjadinya quarter-life crisis dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor internal yang berasal dari pikiran kita sendiri dan faktor eksternal yang berasal dari luar.

  1.  Faktor Internal
  • Harapan dan Mimpi. Setiap individu memiliki keinginan kuat untuk sukses secara profesional, memiliki orang-orang positif di sekitar mereka, menemukan cinta sejati dan memberikan rumah yang bahagia bagi orang-orang yang dicintainya. Krisis emosional muncul dari kekhawatiran dan kecemasan hanya ketika didasarkan pada harapan yang tidak realistis tentang masa depan.
  • Spiritualitas dan Agama. Terkadang kita merasa bahwa belum sepenuhnya memahami esensi ajaran agama kita, sehingga memunculkan berbagai pertanyaan kritis yang membuat kita bingung tentang tujuan hidup di dunia ini.
  • Kemalasan Diri dan Suka Menunda Pekerjaan. hal ini dapat disebabkan karena individu bingung dengan banyaknya pilihan yang tersedia sedangkan mereka tidak memahami potensi diri diri sendiri.
(source image from pinterest)

     2.  Faktor eksternal

  • Hubungan Pertemanan, Percintaan, dan Keluarga. Keterlibatan dengan orang lain, khususnya keluarga, teman, dan pasangan, sangatlah penting. Seseorang mungkin menginginkan pasangan, namun menjaga hubungan tetap berjalan dengan baik tidaklah mudah. Krisis yang dialami individu juga  disebabkan oleh berbagai tuntutan kehidupan yang dihadapi. Umumnya penyebab krisis yang utama adalah karena adanya harapan dan tuntutan dari orang tua terhadap langkah apa yang akan diambil di masa mendatang (Arnett, 2004). 
  • Akademis atau Pendidikan. Seseorang cenderung merasa seperti berada di jalur yang salah ketika memilih jurusan masuk ke suatu tingkat pendidikan formal atau non-formal sekalipun. kebimbangan tentang apakah benar memilih jurusan untuk dipelajari, haruskah melanjutkan tingkat pendidikan setelah selelsai pada suatu jenjang atau berusaha mendapatkan pekerjaan, semua itu bisa menimbulkan kekhawatiran dalam diri kita untuk mengambil keputusan.
  • Karier atau Pekerjaan. Beberapa orang menjadi bingung saat melihat pencapaian seorang teman yang telah mendapatkan pekerjaan impian mereka saat ia sendiri menganggur. Kekhawatiran lainnya adalah memilih pekerjaan yang sesuaidengan keinginannya atau yang bergaji tinggi. Perasaan tidak aman yang dirasakan ini membuat kita lebih cemas dan khawatir. Adanya tanggung jawab baru untuk secepatnya terbebas dari tanggungan orang tua kemudian mandiri secara finansial dan dapat membantu keluarga secara materil juga menjadi faktor quarterlife crisis pada individu.
(source image from pinterest)

    Pencegahan dampak negatif dari Quarter-life crisis dapat dilakukan dengan beberapa strategi, diantaranya: 
  1. Self acceptance. Self acceptance mencerminkan penerimaan nasib dan melanjutkan hidup dengan sikap yang lebih positif sebagai strategi dalam menghadapi quarter-life crisis. Mereka belajar untuk mensyukuri keadaan yang ada dan merasa nyaman dengan diri sendiri.Menikmati waktu untuk diri sendiri (me-time) juga menjadi bagian penting dari upaya mereka untuk menjaga keseimbangan dan memotivasi diri. Self acceptance dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: (1) belajar untuk lebih mengikhlaskan hal yang telah terjadi dan berusaha untuk mulai menikmati hidup serta membuka dirinya. Hal ini mencerminkan penerimaan terhadap peristiwa masa lalu. (2)  belajar untuk memahami bahwa fase masalah pasti berlalu dan dapat menikmati waktu sendiri memotivasi dirinya sendiri untuk melewatinya. (3) Belajar memahami harapan dan perilaku orangtua serta mencoba saling terbuka dengan orang tua.
  2. Growth Mindset. Growth mindset direfleksikan dengan meyakini dan berusaha untuk keluar dari keadaan sulit. individu berusaha produktif dengan optimisme, berkomitmen untuk terus maju, dan bangkit dari kesulitan. Selain itu, individu aktif meningkatkan kemampuan diri dan memperbaiki komunikasi agar lebih efektif dalam berinteraksi dengan orang lain. Growth mindset dapat dilakukan dengan beberapa kegiatan, diantaranya (1) Menghindari overthinking yang dapat menghambat kemajuan dan mencari pengalaman baru sebagai upaya untuk terus tumbuh dan berkembang. (2) Tidak larut dalam kesedihan dikarenakan hubungan intrapersonal dengan bangkit dari kesedihan dan memulai usaha baru dengan sebagai upaya untuk mengubah arah hidupnya, termasuk juga untuk tidak menyerah untuk melamar pekerjaan. (3) melakukan introspeksi dan memperbaiki cara berkomunikasi dengan orang lain. Individu juga tetap produktif dengan mengisi waktu luangnya dengan aktivitas yang bermanfaat dan dengan menambah wawasan dan mengembangkan keterampilan, partisipan ini berupaya memperkuat profilnya agar diterima di dunia kerja. (4) membuka diri dan beradaptasi terutama di tempat baru.
  3. Social Support, social support dari sekitar berupa dukungan moral, yang memberikan pandangan objektif yang membantu individu merasa didengar dan dipahami. Social support didapatkan melalui keluarga yang memberikan nasihat bijak, pengalaman, dan dorongan untuk terus maju. Selain itu, pasangan dapat memberikan dukungan emosional yang mendalam, meredakan perasaan kesepian, dan memberikan kepercayaan diri yang diperlukan untuk mengatasi kesulitan. 
  4. Penerapan Ilmu Psikologi. Melalui ilmu psikologi, individu dapat memahami lebih dalam tentang dirinya sendiri untuk lebih waspada terhadap perilaku yang berpotensi menimbulkan stres dan depresi. Selain itu, belajar psikologi juga telah meningkatkan empati terhadap orang lain dan situasi di sekitarnya, tidak cepat menghakimi orang lain, karena memahami bahwa setiap tindakan dan peristiwa memiliki latar belakang dan penyebab yang perlu dipahami secara mendalam.
  5. Meningkatkan Religiusitas. Kepercayaan akan kuasa Tuhan menjadi dasar keyakinan bahwa segala hal terjadi dengan tujuan yang lebih besar, yang membantu meredakan kecemasan dan kekhawatiran terkait masa depan.
(source image from pinterest)

     Berikut merupakan ulasan tentang Quarter-life crisis yang belakangan di alami oleh banyak individu. Ulasan ini diharapkan dapat menambah wawasan untuk membantu individu dalam menghadapi dan mengatasi tangtangan ini. Bagi para pembaca, diharapkan penelitian ini juga dapat memotivasi serta merefleksikan kembali pengalaman yang sudah dilakukan, mampu memiliki tujuan masa depan dan mengingatkan diri sendiri untuk terus berusaha saat menghadapi krisis dalam kehidupan mendatang.

DAFTAR PUSTAKA
  • Fadhilah, F., Sudirman, S., & Zubair, A. G. H. (2022). Quarter Life Crisis pada mahasiswa ditinjau dari Faktor Demografi. Jurnal Psikologi Karakter, 2(1), 29-35. https://doi.org/10.56326/jpk.v2i1.1294.
  • Robbins, A., & Wilner, A. (2001). Quarterlife crisis : The unique challenges of life in your twenties. Penguin Putnam.
  • Robinson, O. C. (2019). A Longitudinal Mixed-Methods Case Study of Quarter-life crisis During the Post-university Transition: Locked-Out and Locked-In Forms in Combination. Emerging Adulthood, 7(3), 167–179. https://doi.org/10.1177/2167696818764144
  • Nash & Murray. (2010). Helping College Student Find Purpose (The Campus Guide of Meaning Making). San Fransisco: Jossey-Bass 
  • Arnett, J. J. (2015). Introduction: Emerging Adulthood Theory and Research. Oxford Handbooks Online. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780199795574.013.36  

Comments